Jumat, 03 Juli 2009

DARI MESIR KE KANAAN


DARI MESIR KE KANAAN

[SEBUAH PERSONIFIKASI]

OLEH

YEFTA TAMPANI


Pendahuluan

Mesir dan Kanaan adalah nama tempat di Timur Tengah. Kedua tempat ini bersejarah bagi bangsa Israel dalam Perjanjian Lama. Mesir adalah tempat dimana bangsa Israel mengalami perbudakan. Akibat dari perbudakan, Allah membebaskan bangsa Israel dan menuntun mereka kembali ke negeri asal mereka yaitu Kanaan (Kel.1-40). Perbudakan sama dengan penindasan yaitu memperlakukan dengan sewenang-wenang[1]. Perbudakan juga berarti penderitaan akibat tekanan dari orang lain secara politik. Lawan dari perbudakan adalah merdeka atau bebas dari penindasan.

Nama lain dari Yakub adalah Israel dan menurut sejarah, mereka bukan penduduk asli Mesir. Kejadian 37:1 menjelaskan bahwa Israel berasal dari Kanaan. “Adapun Yakub, ia diam di negeri penumpangan ayahnya, yakni di tanah Kanaan”. Yusuf, salah seorang dari anak Yakub, dijual oleh saudara-saudaranya kepada orang Ismael tanpa sepengetahuan ayahnya. Yusuf kemudian dibawa ke Mesir (Kej. 37:28). Suatu ketika Yakub mengetahui bahwa Yusuf masih hidup dan ia berada di Mesir. Yakub rindu bertemu dengan Yusuf. Oleh sebab itu bersama dengan saudara-saudara Yusuf yang lain, Israel pindah ke Mesir (Kej. 46). Isarel menetap di Mesir dan berkembang menjadi suatu bangsa yang besar (Kel. 1:7, 9).

Orang Mesir merasa ketakutan karena Israel berkembang sangat cepat menjadi satu bangsa yang besar. Pemerintah Mesir mulai menerapkan berbagai aturan dengan tujuan untuk menindas mereka. Misalnya kerja paksa dan menekan pertambahan jiwa (Kel.1:10, 15, 16).

Penderitaan ini tidak terjadi di luar rencana Allah. Penderitaan ini bukan hukuman tetapi suatu pembentukkan hati atau terapi bagi bangsa Israel (Ul. 8:2). Tujuannya supaya bangsa Israel belajar merendahkan hati. Penderitaan ini adalah suatu proses pembentukkan oleh sebab itu tidak melebihi kekuatan mereka. Allah membebaskan mereka tepat pada waktunya. Langkah awal Allah dalam pembebaskan bangsa Israel adalah mengutus Musa memipin mereka kembali ke Kanaan.

“Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir” (Kel. 3:8). Bentuk dasar dari kata melepaskan adalah “lepas”. Kata ini memiliki arti sama dengan tidak tertambat atau tidak terikat lagi atau bebas[2]. Penambahan prefiks ‘me’ dan sufiks ‘kan’ pada kata dasar “lepas”, mengubah kata ini menjadi kata kerja aktif. Subjek kalimat yaitu “Aku” [Allah] terlibat secara aktif dalam proses pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Perhatikan kalimat “…dan menuntun mereka …ke Kanaan”. Penggunaan preposisi ‘ke’ dengan nomina “Kanaan” memiliki ciri lokatif. Artinya kegiatan ‘melepaskan’ dalam kalimat tersebut menunjuk pada tempat. Dengan kata lain, kehidupan yang terlepas dari perbudakan hanya ada di Kanaan. Jadi bangsa Israel tidak hanya dilepaskan atau dibebaskan begitu saja dari perbudakan tetapi ada maksud dan tujuan dibalik peristiwa ini. Tujuannya agar bangsa Israel keluar dari “Mesir” dan menuju “Kanaan”. Maksudnya bangsa Israel lepas dari perbudakan dosa dan hidup dalam suatu kebebasan yang memuliakan Allah. Kanaan juga menunjukkan bahwa Allah bertanggungjawab terhadap umat-Nya. Dia mempersiapkan tempat bagi mereka yang memungkinkan untuk hidup dalam suatu persekutuan yang indah, damai yang diperintah oleh seorang Raja yang adil yaitu Allah sendiri.

Ada satu pertanyaan yang timbul, mengapa bangsa Israel harus ke Kanaan? Apakah tidak ada tempat lain selain Kanaan? Telah disebutkan di atas bahwa kehidupan yang bebas dari tekanan/penindasan hanya ada di Kanaan. Dalam Keluaran 3:8 jelas Firman Allah berkata “Kanaan adalah satu-satunya negeri yang berlimpah susu dan madu”. Di sini tidak menyebut tempat lain kecuali Kanaan. Ada banyak tempat di Timur Tengah, tetapi hanya Kanaan yang memiliki “susu dan madu”. Secara harafia, “susu dan madu” adalah minuman yang memiliki kualitas gizi tinggi, lezat dan dapat membuat orang sehat dan juga menyembuhkan penyakit. Bangsa Israel mendambakan “susu dan madu” untuk menyembuhkan mereka dari penyakit ‘tekanan’ yang sedang mereka alami. “Susu dan madu” yang dimaksud di sini adalah lambang dari kesejahteraan, kedamaian, sukacita, dan keindahan. Inilah kualitas hidup yang dikehendaki oleh Allah agar nyata dalam kehidupan umat pilihan-Nya. Kanaan adalah symbol dari sukacita, kedamaian dan di sana tidak ada penindasan. Wahyu 21:4 menggambarkan Kanaan yang penuh dengan “susu dan madu itu”. Kanaan tidak ada air mata, tidak ada perkabungan atau ratap, tangis atau dukacita”. Allah ingin supaya umat-Nya hidup dalam suatu suasana yang penuh dengan sukacita yang memuliakan Allah.

Mesir dan Kanaan

[suatu perlambangan]

Karakter manusia dapat mengubah arti sebuah nama. Misalnya, Mesir dan Kanaan. Kedua nama ini sebenarnya adalah nama tempat di Timur Tengah, sekarang. Mesir dan Kanaan memiliki arti lain selain sebagai nama tempat. Mesir dipersonifikasikan sebagai tempat yang penuh dengan dosa. Contoh: “Ucapan Ilahi terhadap Mesir” (Yes. 19:1-25) menunjukkan bahwa Allah tidak lagi menahan murka-Nya terhadap Mesir karena dosa mereka. Kanaan dalam Perjanjian Baru disebut Yerusalem baru. Kanaan dipersonifikasikan sebagai tempat yang penuh dengan sukacita, kesucian, kekudusan sehingga di sana tidak ada dosa. “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru…” (Wahyu 21:2a). “Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal” (Wahyu 21:11).

Kebaikan atau kejahatan dihasilkan oleh karakter manusia. Tempat juga memiliki sifat-sifat seperti indah, menarik, gersang, dan lain sebagainya. Akan tetapi tempat tidak dapat dikatakan memiliki karakater kebaikan atau kejahatan. Mengapa? Kata ‘baik’ dan ‘jahat’ adalah kata sifat. Karena itu sifat ini bisa ada pada suatu benda, termasuk Mesir dan Kanaan. Tetapi penambahan ‘ke-an’ pada kata baik dan jahat menjadi kata keterangan aktif. Artinya ada tindakan menghasilkan perbuatan ‘baik’ dan ‘jahat’. Benda mati tidak mungkin dapat menciptakan ‘kebaikan atau kejahatan’ kecuali manusia yang memiliki naluri atau akal budi yang memberi dorongan kepada manusia untuk melakukan perbuatan baik atau jahat. Akal budi manusia berperan untuk membedakan yang baik dan yang jahat.

Personifikasi dari kata Mesir dan Kanaan menujuk pada karakter orang yang mendiami kedua tempat tersebut. Bentuk personifikasi lain dapat kita lihat dalam peribahasa “bahasa menujukkan bangsa”. Bahasa hanyalah suatu media atau alat (benda mati) atau yang tidak bernyawa tetapi dipersonifikasikan seolah-olah sama dengan manusia. Contoh orang asing menilai orang Indonesia berbelit-belit karena kebiasaan berbicara yang terkesan ‘berputar-putar’ dalam mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Bahasa yang dipakai mengubah karakter orang Indonesia. Contoh lain misalnya, “dewi malam tersenyum di balik awan”. Bulan yang disebut “dewi malam” adalah benda mati dipersonifikasikan sebagai seorang dewi (dewa perempuan) yang cahayanya indah seolah-olah seorang gadis yang tersenyum.

Personifikasi muncul sebagai akibat dari penilaian terhadap karakter manusia kemudian disandingkan dengan karakter suatu benda atau sebaliknya. Personifikasi juga dapat dikatakan sebagai pengaruh karakter manusia terhadap suatu benda yang ada disekitarnya. Dalam pengertian ini, benda yang mendapat pengaruh secara langsung berubah arti mengikuti karakter manusia misalnya ‘Mesir dan Kanaan’ (pengertian penulis).

Mesir dan Kanaan dipersonifikasikan seolah-olah memiliki karakter seperti manusia. Pengaruh karakter orang Mesir dan Kanaan mengubah arti kedua nama tersebut. Berikut ini adalah karakter orang Mesir dan Kanaan yang disebutkan dalam Alkitab. Mesir adalah bangsa menindas bangsa Israel (Keluaran 1:10-14). Orang Mesir membunuh orang Israel (Kel.1:16, 22). Orang Mesir dikenal pelit (Kel. 5:7), licik dan bengis (Kel. 5). Mereka mengadalkan sihir, dan orang-orang berilmu (Kel. 7:11). Orang Mesir curang terhadap orang Israel (Kel. 8:29). Orang Mesir melakukan banyak dosa (Kel. 9:34). Mesir dipersonifikasikan sebagai bangsa yang suka melakukan dosa.

Muncul pertanyaan, apakah orang Israel tidak melakukan dosa? Sebaliknya apakah orang Mesir tidak memiliki kasih? Jawabannya tidak. Jawaban terhadap kedua pertanyaan ini memberikan isyarat agar tulisan ini hanya difokuskan pada “Personifikasi Mesir dan Israel”. Lebih dipertegas lagi bahwa personifikasi di sini mengacu pada “karakter” menusia yang mendiami kedua tempat tersebut. Karakter orang Kanaan antara lain: kudus, suci dan tidak berdosa. Karakter-karakter ini adalah simbol dari orang-orang yang diam dalam “Kerajaan Sorga”. Personifikasi dari Mesir adalah dosa. Artinya karakter orang Mesir menurut Yesaya 40:2b lebih cenderung melakuan kejahatan. Lambang dari kejahatan adalah “Neraka”. Kebaikan, kekudusan, dan kesucian hanya ada di Sorga. Perbuatan dosa hanya ada di dunia. Karena Allah mengasihi isi dunia ini karena itu Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal datang ke dunia untuk menebus manusia dari dosa (Yohanes 3:16). Dengan demikian, dapat simpulkan bahwa yang dimaksud Mesir dan Kanaan dalam tulisan ini adalah pertentangan antara “Dosa yang berakibat pada hukuman kekal dalam Neraka dengan kesucian, kebenaran, kekudusan, keadilan yang merupakan sifat-sifat orang percaya yang akan mendiami Kerajaan Sorga.

Kanaan menurut Frank Charles Thompson, melambangkan Surga suatu kehidupan Kristen yang lebih tinggi, yang dimenangkan melalui peperangan. Tafsiran ini didasarkan pada Roma 7:23[3]. Dalam Keluaran 3:8b, Kanaan adalah suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Wahyu 21:4 melukiskan bahwa di Surga tidak ada air mata, tidak ada perkabungan atau ratap tangis atau dukacita. Surga juga disebut Yerusalem Baru (Wahyu 21:9-27). Suatu kota yang penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal (ay.11).

Proses untuk keluar dari Mesir menuju Kanaan

Bangsa Israel merindukan suatu situasi yang kondusif dan bebas dari tekanan atau perbudakan. Keinginan ini terungkap dalam Keluaran 3:7 “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka...”. Keluhan bangsa Israel telah didengar oleh Allah dan Ia sudah bertindak sebelum Ia menyampaikannya kepada Bangsa Israel.

Langkah pertama yang Allah kerjakan adalah memilih pemimpin untuk melepaskan bangsa Israel dari perbudakan (Keluaran 3:10) tetapi sebenarnya jauh sebelum itu, Allah sudah bertindak. Prinsip pemilihan bagi Allah berbeda dengan cara manusia. Aspek fisik, aspek pengetahuan, aspek kekayaan, aspek kedudukan sangat penting bagi manusia dalam memilih tetapi Allah justru sebaliknya. I Korintus 1:27-29 berkata “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri dihadapan Allah”.

Prinsip pemilihan Allah didasarkan pada sifat-sifat-Nya. Musa adalah sosok seorang pemimpin yang tepat menurut pandangan Allah. Meskipun demikian, Musa mengakui bahwa ia hanya seorang gembala domba (Kel. 3:1). Ia tidak kuat, bodoh dan tidak memiliki pengalaman dalam berdiplomasi dan memimpin (Kel. 3:11; 4:10). Musa bahkan merasa pengutusan Allah tidak mengikuti prosedur manusia yaitu perlu ada ‘surat keputusan pengangkatan’ [SK dari Allah] (Kel. 3:13; 4:1). Oleh sebab itu ia merasa tidak pantas menjadi pemimpin (Kel. 4:13).

Menarik untuk dikaji karena Musa disatu sisi adalah pilihan Allah. Secara otomatis Musa tidak cacat dalam semua aspek, tetapi apabila ia memiliki kelemahan secara manusiawi, ia pasti disempurnakan sebab dia dipilih oleh Allah. Namun, Alkitab mencatat bahwa Musa tidak diperkenankan oleh Allah sendiri untuk memasuki tanah Kanaan. Dari sudut pandang manusia, Musa tentu kecewa dan tidak menerima keputusan itu. Ada tiga alasan, pertama, dia berjasa dalam memimpin bangsa Israel melewati padang gurun selama 40 tahun. Suatu perjalanan yang melelahkan dan dilalui dengan taruhan nyawa. Kedua, Musa tidak mengangkat dirinya menjadi pemimpin. Dia diutus oleh Allah. Jadi logisnya dalam bersalahpun ia harus tetap layak. Ketiga, pada awal pemilihan, dia tidak siap menjadi pemimpin karena dia hanya seorang gembala dan ia sendiri mengakui kelemahan itu tapi Allah menghendaki supaya ia menjadi pemimpin.

Alkitab mencatat bahwa Musa hanya diizinkan melihat dari jauh. Ulangan 34:1. Musa melihat dari jauh yaitu “…di atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang ditentangan Yerikho”. “…tetapi engkau tidak akan menyebrang ke sana” (Ulangan 34: 4b). Pertanyaannya, mengapa? Jawabannya karena Musa marah. Pada saat ia bersama-sama dengan bangsa Israel tiba di Masa dan Meriba. Pada saat itu bangsa Israel bersungut - sungut karena tidak ada air. Sungut - sungut bangsa Israel menyebabkan Musa marah. Satu kesalahan menurut pikiran manusia tidak seimbang dengan hukuman yang ia terima.

Timbul lagi pertanyaan dalam pikiran kita: Apakah keputusan Allah itu adil dan benar? Ada dua dasar pijak yang bisa dipakai untuk mengukur kebenaran dan keadilan Allah dalam keputusan ini. Pertama, jasa Musa. Jika ini menjadi tolak ukur penilaian, maka terkesan Allah tidak benar dan tidak adil dalam memberi hukuman kepada Musa sebab ia sangat berjasa kepada bangsa Israel. Kedua, konsekuensi. Konsekuensi berarti akibat yang harus diterima karena perbuatan seseorang. Jika ini yang menjadi dasar tolak ukur, maka hukuman Tuhan benar dan adil. Mengapa? Karena hukuman atau pahala bagi seseorang sekali-kali tidak dipengaruhi oleh jasa orang tersebut. Dengan kata lain, dosa tetap dosa, benar tetap benar dan menurut hukum konsekuensi, orang berdosa harus dihukum dan orang benar harus dibebaskan.

… Allah tidak memilih suatu perbuatan tertentu karena ada nilai intrinsik dalam perbuatan itu sendiri. …Dalam mengambil keputusan, Allah telah mengikuti standar obyektif yang menyangkut benar dan salah, yaitu suatu standar yang merupakan bagian dari struktur realitas. Namun, standar yang dipatuhi Allah tidak terletak di luar diri-Nya, tetapi merupakan watak-Nya sendiri. Allah mengambil keputusan sesuai dengan realitas, dan realitas tersebut adalah diri-Nya sendiri[4]

Jika Allah memperhitungkan jasa Musa, berarti Allah menunjukkan egoisme dan pilih kasih atau berat sebelah.

Keadilan Allah artinya Allah itu adil dalam pelaksanaan hukum-Nya. Allah tidak menampilkan sikap pilih kasih atau berat sebelah. Dalam hal ini identitas seseorang tidak berpengaruh. Apa yang telah dilakukan atau tidak dilakukan oleh seseorang itulah yang merupakan satu-satunya pertimbangan apakah seseorang menerima hukuman ataukah pahala. Bukti tentang keadilan Allah ini tampak ketika Allah mengutuk hakim-hakim pada zaman Alkitab, yang diperintah untuk mewakili Dia, namun menerima suap sehingga mengubah keputusan mereka (mis. I Sam. 8:3; Am. 5:12). Alasan pengutukan mereka adalah bahwa Allah sendiri yang adil, mengaharapkan perilaku yang sama dari orang-orang yang melakukan hukum-Nya.[5]

Sebagaimana halnya dengan kekudusan-Nya, Allah mengharapkan agar para pengikut-Nya menyamai kebenaran dan keadilan-Nya. Sebagai standar kita, kita harus menerima hukum dan ketetapan Allah. Kita harus memperlakukan orang lain secara jujur dan adil (Am. 5:15, 24; Yak. 2:9) karena itulah yang dilakukan Allah sendiri.[6]

Maka dapat disimpulkan bahwa hukuman Allah benar dan adil sebab konsekuensi dari tindakan Musa yang salah, ia patut menerima hukuman. Kita melihat obyektifitas Allah dalam mengambil keputusan. Hukuman dari Allah menunjukkan kebenaran dan kesucian diri-Nya yang tidak mungkin dikorbankan hanya karena jasa manusia. Tidak bisa dikatakan Allah tidak benar dan tidak adil dalam hukuman-Nya kepada Musa. Sebab apabila itu juga menjadi alasan berarti manusia lebih mengutamakan yang terbatas, daripada Tuhan yang tidak terbatas. Hal ini bertentangan dengan hukum yang pertama dan yang terutama “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, akal budimu, jiwa dan kekuatanmu (Luk.10:27).

Hakikat dosa tidak terletak dalam hal mementingkan diri sendiri daripada orang lain, tetapi dalam hal lebih menyukai hal-hal yang terbatas daripada Allah, atau mengganti sesuatu yang nilainya sangat terbatas. Jadi mengutamakan orang lain dan bukan mengutamakan Tuhan adalah dosa, sekalipun hal itu tampaknya sebagai tindakan yang tak mementingkan diri sendiri pada pihak kita. Perintah yang terutama dan yang pertama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, akal budi, jiwa dan kekuatan (Luk.10:27). Perintah terutama yang kedua adalah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Mendahulukan perintah kedua sebagai pengganti perintah pertama adalah salah dan berdosa.[7]

“…Aku telah turun” menunjuk kepada kedatangan Kristus ke dunia

Perhatikan kalimat “…Aku telah turun untuk melepaskan mereka…” (Keluaran 3:8). Kalimat ini diterjemahkan “I have come down” [present perfect] dalam Alkitab bahasa Inggris terjemahan NIV. Penggunaan tenses ini menunjukkan bahwa kegiatan “turun” yang dilakukan oleh subjek kalimat [Aku] – [Allah] terjadi satu kali pada masa lampau tetapi masih ada hubungannya dengan waktu sekarang. Kata kerja ‘turun’ dalam kalimat tersebut adalah bentuk lampau (past participle). Kalimat ini menunjuk pada kedatangan Kristus ke dunia yang terjadi satu kali pada waktu lampau. Penggunaan to be ‘have’ dalam kalimat tersebut adalah indikasi waktu sekarang. Ini menunjuk pada karya Yesus Kristus yang tidak hanya terbatas bagi orang Israel pada waktu lampau tetapi bagi semua orang percaya di masa kini. Jika Dia tidak turun, tidak mungkin Musa dapat menyelesaikan masalah perbudakan dosa di Mesir. Sama halnya dengan Kristus. Jika Dia tidak datang ke dunia “siapakah yang dapat pengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?” (Markus 2:7).

Kelemahan yang dilakukan oleh Musa yang menyebabkan ia tidak masuk dalam tanah perjanjian membuktikan bahwa manusia terbatas karena dosa. Tidak ada seorangpun yang benar, semuanya berdosa dihadapan Allah. Nabi sekalipun, tetap berdosa. Hanya Allah yang memiliki pribadi yang tidak berdosa. Oleh sebab itu Allah melalui Yesus Kristus turun ke dunia untuk ‘melepaskan’ manusia dari dosa [perhatikan kata melepaskan dipakai dalam Keluaran 3:8]. Nubuatan tentang kedatangan Kristus juga telah disampaikan oleh Yesaya dalam (Yesaya 40:3-5). Allah turun untuk melepaskan bangsa Israel dari perbudakan dosa menunjukkan betapa Ia mengasihi umat-Nya (Yeremia 31:3). Penderitaan yang dialami oleh bangsa Israel di Mesir melukiskan penderitaan Kristus ketika Dia berada di dunia. Manusia menolak Dia sebagai Juruselamat tetapi Ia mengasihi manusia karena Ia tahu bahwa dosa yang menyebabkan manusia memberontak terhadap Allah. Dia merelakan diri-Nya mati di kayu salib. Tetapi kuasa-Nya yang membangkitkan diri-Nya sendiri yang telah membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang berbeda dengan illah-illah yang disembah oleh orang Mesir.

Masihkah kita di Mesir [dosa] atau sudah kembali ke Kanaan [hidup sebagai anak-anak terang]?

Pertanyaan ini sifatnya ‘self evaluation’. Artinya jawaban ada pada kita. Meskipun demikian, kita bisa belajar dari kasus “penderitaan bangsa Israel dan tindakan Allah untuk memulihkan mereka”. Perhatikan pernyataan Allah ini “…Aku telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesengsaraan umat-Ku…” (Kel. 3:7a); “…Aku telah mendengar seruan mereka…” (ay.7b); “…Aku mengetahui (ay. 7c); “…Aku telah turun untuk melepaskan mereka…” (ay.8).

Pernyataan - pernyataan Allah di atas melukiskan suatu “sistem berekspresi” yang berbeda dengan cara manusia.

Di bawah ini adalah gambar proses suatu pernyataan atau tindakan yang dihasilkan oleh manusia.

OBJEK

INPUT

MATA

OUTPUT

STATEMENT

(saying)

.




Pertama-tama, mata menangkap objek (input), dibawa ke hati lalu diproses dalam pikiran dan selanjutnya muncul dalam bentuk ekspresi: kata-kata atau tindakan (output). Output pertama yang muncul dalam system berekspresi manusia adalah pernyataan (saying) dan kedua tindakan (action). Tetapi kenyataan yang kita lihat, banyak orang hanya sampai pada tahap pertama pernyataan (saying) dan sulit untuk sampai pada tahap kedua tindakan (action).

Prosedur Allah dalam system berekspresi berbeda dengan manusia. Pada saat berekspresi (output), pertama kali yang muncul adalah tindakan (action) kemudian pernyataan (saying). Tentu masing-masing system ini memiliki hasil yang berbeda pula. Sistem berekspresi yang dipakai oleh manusia hasilnya ‘hambar’ (samar-samar) atau tidak jelas. Misalnya, manusia berkata ‘hendaklah kamu jujur’. Kata jujur tidak berarti sama sekali jika kita memakai system berekspresi manusia. Mengapa? Karena kata jujur tidak berarti jika hanya diekspresikan dalam bentuk kata-kata. Jujur baru memiliki arti jikalau manusia melakukannya dalam bentuk tindakan. Maka pernyataan ‘hendaklah kamu jujur lebih tepat memakai system berekspresi Allah. Contoh system berekspresi Allah yang paling konkrit, kita temukan dalam Keluaran 3:7&8). Pernyataan “…Aku telah memperhatikan…”; “…Aku telah mendengar…”; “…Aku mengetahui…”; “…Aku telah turun…”, adalah pernyataan-pernyataan yang disertai tindakan. Akan tetapi tindakan itu terjadi lebih dahulu. Allah lebih dahulu melakukannya sebelum Ia menyatakannya dalam bentuk pernyataan (saying). Perhatikan, Allah tidak berkata “Aku akan…” tetapi Ia berkata “Aku telah…”. Kata keterangan ‘akan’ dipakai untuk menyatakan suatu kegiatan yang terjadi diwaktu yang akan datang tetapi pernyataan (secara lisan) tentang kegiatan tersebut dikemukakan lebih dahulu. Berbeda dengan keterangan waktu ‘telah’. Kata keterangan ini dipakai untuk menyatakan suatu kegiatan yang sudah dilaksanakan pada waktu kegiatan tersebut diungkapkan secara lisan.

Apa pentingnya suatu statement didahului dengan action? Kita kembali pada hakekat keberadaan bahasa itu sendiri. Bahasa ada untuk mengkomunikasikan apa yang sudah ada. Atau adanya bahasa menerangkan apa yang sudah ada supaya dapat dimengerti dengan pikiran manusia. Apa yang ada bisa berupa benda, tetapi juga bisa berupa tindakan. Mengkomunikasikan berarti memberi nama pada benda atau tindakan sebagai penanda. Yang paling penting dari komunikasi adalah adanya arti. Di dalam komunikasi, masing-masing pihak harus saling mengerti. Jika tidak itu bukan komunikasi. Contoh yang paling sederhana adalah kayu. Dari sisi bahasa, ini terdiri dari huruf-huruf yang tidak memiliki arti. Tetapi jika dipadukan atau dilekatkan dengan ‘kayu’ yang memiliki wujud, kata ini sangat dipahami oleh manusia. Contoh lain misalnya kata ‘benar’. Kata ini hanya bisa dimengerti jika itu dinyatakan dalam bentuk tindakan. Jadi statement (saying) harus diikuti dengan tindakan (action) supaya apa yang diucapkan memiliki arti. Baik statement maupun action tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Keduanya seperti satu mata uang yang memiliki dua sisi. Melakukan yang satu dan mengabaikan yang lain sama halnya dengan hidup tanpa napas. Suatu statement yang tidak disertai tindakan (action) sama dengan “kampanye”. Kampanye adalah saudara kandung dari “dongeng”. Baik kampanye maupun dongeng merupakan anak-anak dari pepatah “Tong kosong nyaring bunyinya”. Ketika Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya untuk melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus (Matius 10:7), Ia tidak berkata “Pergilah dan ‘kampanyekan’ Kerajaan Sorga. Yesus berkata “Pergilah dan beritakanlah Kerajaan Sorga. Beritakan berarti menyampaikan apa yang sudah dialami. Berbeda dengan menyampaikan apa yang didengar dari orang lain. Memberitakan berarti membuktikan terlebih dahulu dalam diri kita sebelum dilanjutkan kepada orang lain dan itulah yang disebut ‘pemberitaan’. Tetapi melanjutkan apa yang diceriterakan oleh orang lain itulah ‘dongeng’. Injil harus diberitakan dan bukan menceriterakan.

Sistem berekspresi gaya manusia telah menguasai pikiran semua orang di seluruh dunia termasuk bangsa kita. Kebanyakan pemimpin di negeri ini bangga dengan jabatannya tetapi tidak sadar bahwa pola pikirnya masih menganut sistem berekspresi gaya manusia. Tidak perlu heran dengan statement mereka, sebab cara mereka berekspresi mengikuti cara manusia yang sifatnya “kampanye” atau “dongeng”.

Lantas bagaimana dengan cara berbicara orang percaya. Apakah sama dengan pemimpin-pemimpin dunia? Kalau kita jujur mengakui, hal itu ada. System berekspresi gaya manusia juga berpengaruh dalam pikiran orang percaya. Tetapi sulit untuk dipastikan. Tetapi harus disadari bahwa sebagai orang percaya, kita adalah utusan Allah sama seperti Musa. Tugas kita adalah meneruskan sifat-sifat Allah dan sisitem berekspresi seperti Allah. Alangkah na’ïfnya jika kita beratribut “Anak-anak-Nya”, tetapi cara kita seperti “orang dunia”. Renungkan pertanyaan ini: Sudahkah kita kembali ke Kanaan atau masih di Mesir? Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing. Selamat berefleksi, kiranya Roh Kudus memimpin kita untuk mewujudkan kehendak-Nya dalam diri kita.



[1] Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Ahmad A.K Muda Drs, 2006, 530.

[2] Ibid, 351

[3] D D., Frank Charles Thompson, Ph.D. 1934. The New Chain Reference Bible. B.B. Kirkbride Bible Co., Inc. CD SABDA-Topik 04303 dan 04304

[4] Millard J. Erckson, Teologi Kristen (volume satu), 2004, 459-460.

[5] Ibid, 462

[6] Ibid, 463

[7] Ibid, 460

4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  2. Hi P Yefta, senang sekali menemukan blog anda dan membaca artikel-artikel di dalamnya. Kalau tidak keberatan, saya mengundang anda untuk mengunjungi blog saya (www.arastamar.blogspot.com). Mungkin dengan demikian, kita bisa berbagi ide dan informasi. Keep on posting bro. GBU

    BalasHapus
  3. Selamat siang Pak Decky. Saya juga senang mengunjungi blog Pak Decky. Saya ingin belajar banyak hal seputar Teologi Kristen. Untuk itu, saya ucapkan banyak terima kasih karena Pak Decky sudah memberikan alamat blognya. Kita saling membagi iformasi dan ide.

    makasih Pak
    Tuhan berkati
    Yefta

    BalasHapus
  4. Saya sangat senang dan diberkati setelah bisa membaca tulisan pak Yefta. TYM, ak Yefta

    BalasHapus